Selasa (2 Juni) yang bertepatan pada 10 Syawwal 1441 H Pimpinan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Univeersitas Islam Indonesia (UII) menggelar halalbihalal atau tradisi syawwalan Hari Raya ‘Idul Fitri bersama segenap unit-unitnya yang ada di FTSP dengan khidmat.

Namun, amat sangat berbeda dari tahun sebelumnya syawwalan ini kali pertama Fakultas kedatangan tamu melalui virtual yakni dalam aplikasi ZOOM dan akun media social seperti instagram dan You Tube. Syawalan dimaknai sebagai ajang silaturahmi sembari merayakan Idul Fitri selepas menunaikan ibadah selama bulan Ramadan. Syawwalan dihadiri lebih dari 180 (seratus delapan puluh) tenaga dosen dan tenaga kependidikan FTSP dan dihadiri pula Wakil Rektor III UII (Dr.Drs.Rohidin, M.Ag).

Dekan FTSP (Miftahul Fauziah, Ph.D) dalam sambutannya mengemukakan rasa bangganya kepada keluarga besar FTSP walaupun ditengah-tengah pandemi Covid-19, masih bersemangat dan kuat dalam menyambung silaturahmi.

Syawalan merupakan momentum saling memaafkan, supaya hati menjadi fitrah atau bersih kembali. Tradisi syawalaan indentik dengan bersalam salaman dan maaf memaafkan saat ini tidak dapat kita lakukan seperti tahun-tahun sebelumnya karena masa pandemic covid-19. Syawalan yang mengangkat thema persiapan menuju New Normal dalam masa pandemik penyebaran virus covid-19. Semoga pandemik ini segera berakhir menuju new normal yang sebenarnya. Ungkapnya.

Sementara Ustadz dr.Agus Taufiq Qurrahman, S.Ps., M.Es. menyampaikan tausyiahnya dengan thema “kesiapan fisik, mental dan spiritual menyambut kelaziman baru (New Normal)”. Agus Taufiq Qurrahman mengutip ciri-ciri orang-orang yang beriman (muttaqin) yang tertera dalam Surat Ali-Imran.  Orang muttaqien jika terlanjur telah berbuat salah/ dhalim akan segera memohon ampun kepada Allah SWT atas kesalahannya yang telah dilakukan dan ia tidak akan mengulagi lagi kesalahan yang pernah dilakukannya. Oleh karena orang yang sukses di Bulan ramadhan, sudah diampuni dosanya, tidak akan berbuat kemaksiatan lagi.

Agus Taufiq Qurrahman adalah dosen Fakultas Kedokteran UII yang sekaligus Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY mengaku bahwa corona virus menurut literatus yang kuat pertama kali ditemukan pada tahun 1960 an, bentuknya seperti mahkota sehingga disebut dengan corona. Sekitar 10 (sepuluh) tahun kemudian virus menyerang dalam bentuk wabah MERS, hanya dalam kurum waktu kurang lebih 2 (dua) tahun dapat terkendali yang kematianya ditaksir hanya sekitar 30%,

Sedangkan angka yang disampaikan dalam data  covid-19 belum tentu karena penambahan yang sedikit, namun tergantung dengan kesiapan laboratorium dalam memeriksa dan ketersediaan reagen. Oleh karenanya untuk menjaganya dapat dilakukan dengan menghindari kontak langsung dan menjaga imun tubuh. Dengan senyuman yang khas sebari Agus Taufiqurrahman mengatakan, sampai-sampai waktu itu Rasulullah pernah berpesan “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kamu memasukinya. Tapi jika terjadi wabah ditempat kami berada  maka jangan tinggalkan tempat itu”. “Jaga sehatmu sebelum sakit”.

Oleh karena itu kata Ustadz Agus, kunci untuk mengendalikan covid-19 adalah disiplin, yaitu tidak mencampur antara yang sehat dengan yang sakit, berusaha memtasi kontak lansung, dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Protokol kesehatan itu sendiri adalah menggunakan masker, cuci tangan menggunakan sabun, jaga jarak antara 1-2 meter, serta hindari kerumunan.

Ustadz Agus Taufiqurrahman melanjutkan, menurut WHO terdapat 6 (enam) syarat menuju new normal yaitu bukti yang menunjukkan bahwa tranmisi covid-19 dikendalikan, kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat dan rumah sakit tersedia untuk mengindentifikasi mengisolasi melacak serta mengkarantina. Disamping itu resiko virus corona diminimalkan terutama dipanti jompo, memberikan langkah-langkah pencegahan di tempat kerja ditetapkan dengan jarak fisik fasilitas mencuci tangan, resiko kasus impor dapat dikelola dengan baik, serta masyarakat memiliki suara dan dilibatkan dalam kehidupan new normal. Ungkap Agus.