Sabtu (20 Pebruari) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia ke-7 (SAKAPARI 7) secara daring bertajub Pengelolaan Cagar Budaya di tengah Krisis.

Dekan FTSP UII (Miftahul Fauziah, Ph.D) dalam sambutannya menuturkan, Jurusan Arsitektur UII secara periodik menyelenggarakan Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia atau SAKAPARI, dan saat ini adalah SAKAPARI yang ke-7.

Di era kemajuan teknologi saat ini Ungkap Miftahul Fauziah, terlebih sedang masa krisis akibat pandemi maka bukan turis yang datang ke Indonesia menikmati heritage yang ada. Dan salah satu pelestarian dan pemanfaatannya bukan membawa orang datang ke heritage tersebut, akan tetapi cagar budayanya yang di bawa kepada mereka dengan kemajuan teknologi secara virtual.

Oleh karena itu, imbuh Miftahul Fauziah, pelestarian arsitektur di tengah krisis yang diakibatkan oleh pandemi seperti Covid-19 tetap harus dilakukan untuk kepentingan lintas generasi.

Sementara Ketua Jurusan Arsitektur FTSP UII (Prof. Noor Cholis Idham, Ph.D., IAI) dalam seminarnya mengatakan, heritage atau cagar budaya harus terus dilestarikan. Bukan hanya sebagai benda museum saja yang hanya dipertahankan keasliannya, namun juga harus memberikan manfaat bagi kehidupan sosial dan ekonomi dimana heritage itu berada. Heritage itu kedepan harus dapat diwariskan dan dilimpahkan kepada generasi kita selanjutnya agar mereka juga dapat mengambil manfaat dari yang kita ditinggalkan.

Lebih jauh disampaikan, pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini sudah mengubah sendi-sendi kehidupan, termasuk di dalamnya kondisi pengelolaan warisan budaya. Padahal di tanah air ini terdapat banyak heritage yang didalamnya tentu perlu dijaga keberadaannya.

Intinya bahwa, keberadaan warisan budaya dari pendahulu kita itu harus kita jaga untuk bangsa ini dan anak cucu kita kelak kemudian hari. Semua itu penting agar tetap bisa sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kelangsungan hajat hidup orang di negara ini. Tutup Prof. Noor Choolis.

SAKAPARI 7 menghadirkan narasumber Prof.Ir. Antariksa M.Eng., Ph.D (Universitas Brawijaya) mengatakan, jika suatu bangunan heritage sudah hancur, kemungkinan besar tidak bisa direkonstruksi kembali. Hal itu karena bahannya dan struktur bangunannya sudah berubah.

Kalau kita perhatikan banyak beberapa candi di Indonesia itu banyak yang tidak direkonstruksi karena data historis dan data arsitekturnya tidak ada, sehingga mereka tidak berani. Sebuah heritage bisa memiliki fungsi baru, namun bukan bentuk baru. Penambahan bangunan tidak boleh mengganggu bentuk aslinya. Ungkap Prof. Antariksa.

Seminar dipandu oleh Dr-Ing. Nensi Golda Yuli yang dihadiri dan menyampaikan kata sambutan Wakil Rektor UII Bidang Networking dan Kewirausahaan (Ir.Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D), Dekan FTSP (Miftahul Fauziah PhD), Ketua Jurusan Arsitektur FTSP UII (Prof. Noor Cholis Idham, Ph.D., IAI), Segenap Ketua Program Studi, yang diikuti oleh 114 penyaji paper dari dalam dan luar UII. (h).