Hijrah memiliki dua makna, yaitu hijrah secara tempat dan hijrah secara spiritual. Semangat hijrah spiritual adalah kita harus bertransformasi dan berevolusi menjadi lebih baik, walaupun hijrah secara tempat atau fisik tidak ada hijrah setelah fathul mekah. Namun, kita tetap harus melakukan hijrah spiritual, yaitu meninggalkan dari apa yang dilarang oleh Allah SWT menuju kepada yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Dalam kitab Ta’lim Muta’allim tertulis bahwa salah satu syarat menuntut ilmu adalah menjadi orang asing karena ketika kita menjadi orang asing, kita akan mempunyai kegigihan, keseriusan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal baru di suatu tempat. “Imam-imam besar telah memberi contoh bahwa dengan berkelana, maka akan banyak ilmu yang didapat,” tuturnya.

Demikian disampaikan ustadz Drs. Agus Triyanta, M.A., M.H., Ph.D., dari Fakultas Hukum UII dalam materinya yang berjudul “Ngalap Berkah” Etos Kerja di sebuah kajian yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) secara daring pada 21 Muharram 1443 H/30 Agustus 2021 dan diikuti oleh dosen dan tendik.

Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa manusia diajarkan untuk selalu berhusnudzon kepada Allah SWT. Karena apapun yang dialami baik itu sesuai dengan keinginan kita ataupun tidak, yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah SWT. Semua keadaan harus menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan itulah orang-orang yang beruntung. Maka dengan seperti itu, kita dapat memaknai hijrah dengan sebenarnya. “Kita dapat mengambil contoh dari Prof. Hamka yang dapat menyelesaikan tafsir Al-Azhar justru ketika berada di dalam penjara,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut ia juga menceritakan bahwa ada seorang nonmuslim yang bernama Park Chung-hee yang dikenal sebagai bapak pembangunan Korea Selatan, saat berkunjung ke Malaysia kagum dengan salah satu ayat Al Qur’an, dan olehnya dijadikan pedoman dalam pembangunan Korea Selatan hingga dapat maju pesat seperti saat ini.  “Hanya dengan satu ayat dapat merubah tatanan negara, bagaimana dengan kita yang mempunyai 6666 ayat dalam Al Qur’an seharusnya dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari,” jelasnya.

“Dalam memaknai Ngalap Berkah Etos Hijrah adalah kita harus ngalap, menggunakan atau mencari keberkahan dengan menghayati makna-makna dari hijrah tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, Dr. Ir. Revianto Budi Santosa, M. Arch., Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni dalam sambutan singkatnya saat membuka acara tersebut berpesan dan mengajak untuk memaknai tahun baru hijrah ini dengan semangat menuju kebaikan. Menurutnya hijrah secara fisik dalam sejarah Islam hanya hijrahnya Rasululloh SAW dari Mekah ke Yatsrib, tetapi secara maknawi kesempatan hijrah ini selalu ada setiap saat untuk melakukan semua hal atau keadaan menjadi lebih baik. “Kita masih dihidupkan oleh Allah SWT sampai saat ini, berarti kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melakukan hal-hal kebaikan yang diridhoi Allah SWT,” ungkapnya.