Madrasah ruhani yang meliputi pendidikan jiwa atau spiritual dimulai dari keluarga, karena keluarga merupakan madrasah pertama dan utama bagi seorang anak. Lingkungan keluarga adalah tempat pertama anak mendapatkan pendidikan akhlak, iman, adab, dan nilai-nilai keagamaan sebelum mengenal lingkungan luar.

Di era digital saat ini banyak keluarga yang secara tidak sadar mulai menjauh dari Al-Qur’an. Gawai, media sosial, dan kesibukan duniawi sering kali menyita waktu yang seharusnya diisi dengan interaksi ruhani bersama wahyu Allah. “Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca saat ibadah ritual, tetapi cahaya kehidupan yang seharusnya menerangi setiap sudut rumah tangga”, ungkapnya.

Demikian diungkapkan ustaz Kiki Fardiansyah Wijaya atau yang akrab dipanggil  Kiki F. Wijaya, Life Coach, Soft Skills Trainer, dan Pegiat Psikologi Islam dalam Kajian Ramadan yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) pada Sabtu, 10 Ramadan 1447 H/28 Februari 2026 di Auditorium Gedung Moh. Natsir Kampus FTSP UII dengan mengusung tema “Madrasah Ruhani Mulai dari Keluarga”.

Lebih lanjut ustaz Kiki menambahkan bahwa orang tua adalah role model utama bagi anak dalam menerapkan perilaku spiritual sehari-hari serta menciptakan suasana damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang sebagai dasar pertumbuhan. Selain itu juga membangun dialog terbuka dan penuh adab antara orang tua dan anak. “Dengan menjadikan keluarga sebagai madrasah ruhani, diharapkan terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kokoh secara spiritual” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni FTSP UII, Ir. Fitri Nugraheni, S.T., M.T., Ph.D., IPM. saat membuka acara tersebut mengajak dan menjadikan ramadan ini momentum perbaikan diri dan keluarga. Menurutnya, bulan ramadan menjadi momen intensif untuk memperkuat peran keluarga sebagai madrasah ruhani melalui ibadah bersama. “Semoga dari madrasah keluarga ini, lahir generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia”, tuturnya.

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Pengajian Songsong Ramadan 1447 H sebagai pembuka rangkaian Oasis Hikmah Ramadan, mengajak dosen dan tenaga kependidikan merenungkan hakikat cinta sejati. Acara ini dirancang untuk menghidupkan semangat spiritual menyambut bulan suci, di tengah tantangan makna cinta yang sering terdistorsi di era digital.​

Bertempat di Auditorium Lantai 3 FTSP UII, pengajian yang digelar Kamis, 12 Februari 2026 pukul 09.00 WIB sukses menarik perhatian keluarga besar FTSP UII dengan tema “Hakikat Cinta Menghidupkan Kehidupan”. Narasumber utama, Dr. Muhammad Roy Purwanto, S.Ag., M.Ag., dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, membagikan wawasan mendalam soal dimensi cinta perspektif Islam.​

Cinta digambarkan bukan sekadar emosi romantis, melainkan fondasi spiritual dan sosial yang menghubungkan manusia dengan Tuhan serta sesama. Dr. Roy Purwanto menyoroti bagaimana cinta jasmani, persahabatan, hingga persaudaraan sering terfragmentasi akibat pengaruh media sosial dan orientasi produk.​

Sebagai inisiatif FTSP UII, pengajian ini tak hanya edukatif tapi juga inspiratif, mengajak keluarga besar FTSP UII menjadikan cinta sebagai pendorong ibadah berkualitas dan relasi bermakna.

Diskusi interaktif berlangsung menarik, dengan peserta aktif bertukar pandang soal tantangan cinta di zaman now, dari konten viral hingga praktik saleh yang terpisah antara ranah pribadi dan publik. Suasana penuh inspirasi, banyak yang terngiang pesan bahwa tantangan terbesar bukan kekurangan cinta, tapi hilangnya pemahaman hakikatnya yang sesungguhnya.​

Keseruan Pengajian Songsong Ramadan 1447 H ini menjadi bukti komitmen FTSP UII dalam mengukuhkan spiritualitas di tengah hiruk-pikuk dunia akademik. Keluarga besar UII patut berbangga. Cinta sejati terbukti jadi pengubah hidup paling ampuh, mengubah rutinitas biasa menjadi hidup bermakna penuh barokah. Oasis Hikmah Ramadan baru permulaan. Ayo sambut Ramadhan dengan hati bercahaya!

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 4

Di balik gemerlap pusat Kota Yogyakarta, terselip sebuah kawasan kecil di bantaran Sungai Code yang menyimpan cerita panjang tentang keterbatasan ruang, risiko bencana, dan harapan akan hunian yang lebih layak. Kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion, Kelurahan Kotabaru, selama bertahun-tahun tumbuh secara informal di lereng curam tepi Sungai, sebuah kondisi yang menjadikannya rentan terhadap longsor, terutama saat musim hujan.

Akses jalan yang sempit, drainase yang belum memadai, serta keterbatasan sanitasi menjadi bagian dari keseharian warga. Namun, di balik tantangan tersebut, Kampung Lampion juga menyimpan potensi strategis sebagai bagian dari rencana pengembangan jalur wisata pedestrian Sungai Code. Di titik inilah, upaya penataan kawasan tidak hanya menjadi soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kualitas hidup dan masa depan warga.

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 5

Melalui Program Housing Improvement Program (Hi-Move), Pemerintah Kota Yogyakarta menggandeng Universitas Islam Indonesia (UII) untuk terlibat aktif dalam penataan kawasan tersebut. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana peran perguruan tinggi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat.

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 2

UII berkontribusi melalui advokasi desain (Program Studi Profesi Arsitek) yang menempatkan kebutuhan warga sebagai titik pijak utama. Pendekatan yang digunakan adalah peremajaan permukiman dengan pola konsolidasi lahan melalui konsep MAHANANNI (Perumahan dan Permukiman Layak Huni). Konsep ini memungkinkan penataan ulang ruang secara kolektif, sehingga sebagian lahan dapat dialokasikan untuk akses jalan lingkungan, saluran drainase, jaringan air bersih, hingga sistem pengelolaan air limbah yang lebih layak.

Tak hanya aspek fisik, kepastian hukum bagi warga juga menjadi perhatian. Melalui penerbitan surat kekancingan bagi penghuni lahan Sultan Ground, warga mendapatkan jaminan rasa aman untuk bermukim dan berpartisipasi dalam proses penataan kawasan.

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 3

Kolaborasi lintas sektor ini diperkuat dengan dukungan mitra internasional, The Society for the Promotion of Area Resource Centers (SPARC) India, melalui Program Roof Over Our Head (ROOH). Pada tahap awal tahun 2025, empat unit rumah warga telah dibangun kembali melalui Program ROOH, sementara enam unit lainnya didukung oleh APBD Kota Yogyakarta. Pembangunan akan berlanjut dengan delapan unit rumah tambahan yang direncanakan pada 2026.

Proses penataan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Kondisi teknis di lapangan, mulai dari terbatasnya ruang untuk distribusi material hingga akses mobilitas pekerja menuntut pelaksanaan bertahap. Rumah-rumah yang belum dibongkar tetap difungsikan sebagai tempat tinggal sementara, sehingga relokasi dapat berlangsung lebih manusiawi tanpa mengganggu kehidupan warga secara drastis.

Bagi UII, keterlibatan dalam penataan Kampung Lampion bukan sekadar proyek desain atau konstruksi. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang pembelajaran bersama tentang bagaimana membangun kota yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, dan mitra internasional menunjukkan bahwa penanganan kawasan kumuh membutuhkan pendekatan yang menyeluruh serta memadukan aspek sosial, lingkungan, dan tata ruang.

Di bantaran Sungai Code, perubahan memang tidak datang dalam semalam. Namun, melalui langkah-langkah kecil yang terencana dan kolaboratif, Kampung Lampion Kotabaru perlahan bergerak menuju wajah baru: lingkungan hunian yang lebih aman, layak, dan memberi harapan bagi warganya.

Berita terkait kegiatan ini juga dimuat di beberapa media cetak dan online, antara lain:

  1. https://beritabernas.com/pemkot-yogyakarta-bersama-program-profesi-arsitek-ftsp-uii-resmikan-rumah-layak-huni-di-kampung-lampion-kotabaru/
  2. https://jogja.tribunnews.com/diy/1207951/wajah-baru-kampung-lampion-yogyakarta-kawasan-kumuh-disulap-jadi-hunian-layak

Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (SAKAPARI) ke-17 tahun 2026 sukses digelar oleh Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), mengusung tema inovatif “Symbiogenetic Forms and Spaces”. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026 di Auditorium Lt.3 FTSP UII ini memikat 157 peserta dengan 80 proposal makalah dan 47 poster partisipan.​​

Prof. Ar. Noor Cholis Idham, PhD, IAI, selaku Ketua Jurusan Arsitektur FTSP UII, membuka acara dengan menekankan urgensi paradigma baru dalam arsitektur kontemporer dan tantangan urban. “Simbiogenesis, konsep biologis di mana bentuk kehidupan baru lahir dari fusi permanen organisme berbeda, menjadi lensa transformatif untuk desain adaptif dan tangguh,” ujarnya penuh semangat.​​

Tema ini mengeksplorasi bagaimana prinsip simbiogenetik mampu menciptakan bentuk dan ruang arsitektur yang terintegrasi mendalam dengan lingkungan ekologis serta budaya, melampaui sekadar keberlanjutan. Keynote speaker Aristek Pablo Luna Ar Yanuar memimpin diskusi, didukung pembicara Ar. Riri Chairiyah ST, MArch, IAI, Syarifah Ismailiyah Al Athas ST, MT, GP, dan dimoderatori Muhammad Kholif Lir Widyo Putro ST, MSc.​​

SAKAPARI 17 menyoroti hubungan simbiosis antara struktur bangunan dan sistem hidup, serta peran masyarakat, teknologi, dan sosial dalam menciptakan arsitektur holistik yang bertanggung jawab. Seminar ini mengajak peserta membangun ruang canggih secara teknologi, regeneratif ekologis, dan kaya budaya untuk masa depan planet yang harmonis.​​

Kerjasama dengan Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Halu Oleo, dan Universitas Mulawarman memperkaya diskusi lintas institusi. Acara ini menjadi wadah bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk mendiseminasikan riset inovatif terkait isu arsitektur, kota, dan lingkungan built.​​

SAKAPARI 17-2026 membuktikan komitmen FTSP UII dalam mendorong arsitektur transformatif yang berevolusi bersama ruangnya, siap menghadapi tantangan global. Gelaran ini tak hanya inspiratif, tapi juga praktis dalam membentuk generasi arsitek visioner Indonesia.

Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kuliah lapangan di Bandung pada 3-5 Februari 2026, membawa puluhan mahasiswa menyelami dunia infrastruktur nyata. Kegiatan ini bukan sekadar wisata, melainkan misi praktis untuk mengasah skill teknik sipil di tengah tantangan pembangunan nasional.

Rombongan mahasiswa memulai petualangan dari kampus UII, langsung menuju lokasi strategis seperti Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS). Di sana, mereka menyaksikan langsung peran vital BGTS dalam proyek infrastruktur raksasa, termasuk pembangunan jalur kereta cepat yang penuh misteri geoteknik.

Dua hari penuh aksi di Bandung dipenuhi kuliah lapangan dan diskusi menarik tentang perbedaan kereta cepat versus konvensional. Didampingi dosen dan praktisi handal, mahasiswa tak hanya mencatat, tapi juga menggali solusi lapangan untuk masalah rumit seperti stabilitas tanah dan terowongan bawah tanah.

Setiap kelompok kecil (satu hingga tiga orang) ditantang produksi video pendek kreatif yang mendokumentasikan pengalaman epik mereka. Output ini bukan formalitas, melainkan alat ampuh untuk mengasah komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas di era digital.

Lebih dari teori kaku, kuliah lapangan ini jadi jembatan ke dunia kerja sesungguhnya, lengkap dengan data mentah untuk tugas akhir. Antusiasme mahasiswa meledak, membuktikan teknik sipil sebagai ilmu dinamis yang siap tempur hadapi revolusi infrastruktur Indonesia.

Kuliah lapangan Teknik Sipil UII diharapkan melahirkan generasi insinyur tangguh yang tak gentar dengan proyek megah masa depan.