Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 4

Di balik gemerlap pusat Kota Yogyakarta, terselip sebuah kawasan kecil di bantaran Sungai Code yang menyimpan cerita panjang tentang keterbatasan ruang, risiko bencana, dan harapan akan hunian yang lebih layak. Kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion, Kelurahan Kotabaru, selama bertahun-tahun tumbuh secara informal di lereng curam tepi Sungai, sebuah kondisi yang menjadikannya rentan terhadap longsor, terutama saat musim hujan.

Akses jalan yang sempit, drainase yang belum memadai, serta keterbatasan sanitasi menjadi bagian dari keseharian warga. Namun, di balik tantangan tersebut, Kampung Lampion juga menyimpan potensi strategis sebagai bagian dari rencana pengembangan jalur wisata pedestrian Sungai Code. Di titik inilah, upaya penataan kawasan tidak hanya menjadi soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kualitas hidup dan masa depan warga.

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 5

Melalui Program Housing Improvement Program (Hi-Move), Pemerintah Kota Yogyakarta menggandeng Universitas Islam Indonesia (UII) untuk terlibat aktif dalam penataan kawasan tersebut. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana peran perguruan tinggi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat.

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 2

UII berkontribusi melalui advokasi desain (Program Studi Profesi Arsitek) yang menempatkan kebutuhan warga sebagai titik pijak utama. Pendekatan yang digunakan adalah peremajaan permukiman dengan pola konsolidasi lahan melalui konsep MAHANANNI (Perumahan dan Permukiman Layak Huni). Konsep ini memungkinkan penataan ulang ruang secara kolektif, sehingga sebagian lahan dapat dialokasikan untuk akses jalan lingkungan, saluran drainase, jaringan air bersih, hingga sistem pengelolaan air limbah yang lebih layak.

Tak hanya aspek fisik, kepastian hukum bagi warga juga menjadi perhatian. Melalui penerbitan surat kekancingan bagi penghuni lahan Sultan Ground, warga mendapatkan jaminan rasa aman untuk bermukim dan berpartisipasi dalam proses penataan kawasan.

Kampung Lampion Kotabaru - ARS FTSP UII 3

Kolaborasi lintas sektor ini diperkuat dengan dukungan mitra internasional, The Society for the Promotion of Area Resource Centers (SPARC) India, melalui Program Roof Over Our Head (ROOH). Pada tahap awal tahun 2025, empat unit rumah warga telah dibangun kembali melalui Program ROOH, sementara enam unit lainnya didukung oleh APBD Kota Yogyakarta. Pembangunan akan berlanjut dengan delapan unit rumah tambahan yang direncanakan pada 2026.

Proses penataan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Kondisi teknis di lapangan, mulai dari terbatasnya ruang untuk distribusi material hingga akses mobilitas pekerja menuntut pelaksanaan bertahap. Rumah-rumah yang belum dibongkar tetap difungsikan sebagai tempat tinggal sementara, sehingga relokasi dapat berlangsung lebih manusiawi tanpa mengganggu kehidupan warga secara drastis.

Bagi UII, keterlibatan dalam penataan Kampung Lampion bukan sekadar proyek desain atau konstruksi. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang pembelajaran bersama tentang bagaimana membangun kota yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, dan mitra internasional menunjukkan bahwa penanganan kawasan kumuh membutuhkan pendekatan yang menyeluruh serta memadukan aspek sosial, lingkungan, dan tata ruang.

Di bantaran Sungai Code, perubahan memang tidak datang dalam semalam. Namun, melalui langkah-langkah kecil yang terencana dan kolaboratif, Kampung Lampion Kotabaru perlahan bergerak menuju wajah baru: lingkungan hunian yang lebih aman, layak, dan memberi harapan bagi warganya.

Berita terkait kegiatan ini juga dimuat di beberapa media cetak dan online, antara lain:

  1. https://beritabernas.com/pemkot-yogyakarta-bersama-program-profesi-arsitek-ftsp-uii-resmikan-rumah-layak-huni-di-kampung-lampion-kotabaru/
  2. https://jogja.tribunnews.com/diy/1207951/wajah-baru-kampung-lampion-yogyakarta-kawasan-kumuh-disulap-jadi-hunian-layak

Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (SAKAPARI) ke-17 tahun 2026 sukses digelar oleh Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), mengusung tema inovatif “Symbiogenetic Forms and Spaces”. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026 di Auditorium Lt.3 FTSP UII ini memikat 157 peserta dengan 80 proposal makalah dan 47 poster partisipan.​​

Prof. Ar. Noor Cholis Idham, PhD, IAI, selaku Ketua Jurusan Arsitektur FTSP UII, membuka acara dengan menekankan urgensi paradigma baru dalam arsitektur kontemporer dan tantangan urban. “Simbiogenesis, konsep biologis di mana bentuk kehidupan baru lahir dari fusi permanen organisme berbeda, menjadi lensa transformatif untuk desain adaptif dan tangguh,” ujarnya penuh semangat.​​

Tema ini mengeksplorasi bagaimana prinsip simbiogenetik mampu menciptakan bentuk dan ruang arsitektur yang terintegrasi mendalam dengan lingkungan ekologis serta budaya, melampaui sekadar keberlanjutan. Keynote speaker Aristek Pablo Luna Ar Yanuar memimpin diskusi, didukung pembicara Ar. Riri Chairiyah ST, MArch, IAI, Syarifah Ismailiyah Al Athas ST, MT, GP, dan dimoderatori Muhammad Kholif Lir Widyo Putro ST, MSc.​​

SAKAPARI 17 menyoroti hubungan simbiosis antara struktur bangunan dan sistem hidup, serta peran masyarakat, teknologi, dan sosial dalam menciptakan arsitektur holistik yang bertanggung jawab. Seminar ini mengajak peserta membangun ruang canggih secara teknologi, regeneratif ekologis, dan kaya budaya untuk masa depan planet yang harmonis.​​

Kerjasama dengan Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Halu Oleo, dan Universitas Mulawarman memperkaya diskusi lintas institusi. Acara ini menjadi wadah bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk mendiseminasikan riset inovatif terkait isu arsitektur, kota, dan lingkungan built.​​

SAKAPARI 17-2026 membuktikan komitmen FTSP UII dalam mendorong arsitektur transformatif yang berevolusi bersama ruangnya, siap menghadapi tantangan global. Gelaran ini tak hanya inspiratif, tapi juga praktis dalam membentuk generasi arsitek visioner Indonesia.

Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kuliah lapangan di Bandung pada 3-5 Februari 2026, membawa puluhan mahasiswa menyelami dunia infrastruktur nyata. Kegiatan ini bukan sekadar wisata, melainkan misi praktis untuk mengasah skill teknik sipil di tengah tantangan pembangunan nasional.

Rombongan mahasiswa memulai petualangan dari kampus UII, langsung menuju lokasi strategis seperti Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS). Di sana, mereka menyaksikan langsung peran vital BGTS dalam proyek infrastruktur raksasa, termasuk pembangunan jalur kereta cepat yang penuh misteri geoteknik.

Dua hari penuh aksi di Bandung dipenuhi kuliah lapangan dan diskusi menarik tentang perbedaan kereta cepat versus konvensional. Didampingi dosen dan praktisi handal, mahasiswa tak hanya mencatat, tapi juga menggali solusi lapangan untuk masalah rumit seperti stabilitas tanah dan terowongan bawah tanah.

Setiap kelompok kecil (satu hingga tiga orang) ditantang produksi video pendek kreatif yang mendokumentasikan pengalaman epik mereka. Output ini bukan formalitas, melainkan alat ampuh untuk mengasah komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas di era digital.

Lebih dari teori kaku, kuliah lapangan ini jadi jembatan ke dunia kerja sesungguhnya, lengkap dengan data mentah untuk tugas akhir. Antusiasme mahasiswa meledak, membuktikan teknik sipil sebagai ilmu dinamis yang siap tempur hadapi revolusi infrastruktur Indonesia.

Kuliah lapangan Teknik Sipil UII diharapkan melahirkan generasi insinyur tangguh yang tak gentar dengan proyek megah masa depan.

Dengan karya yang diunggulkan “ModuLego House 3.0”, empat mahasiswa Program Studi Arsitektur Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) yang terdiri dari Fikri Abdulah Sahid, Ario Putra Tianto, Alfarel Yasya Ganendra, Muhammad Salman Alfaredzi berhasil menyabet Juara 2 Business Ideation Kategori Mahasiswa di ajang BTN Housingpreneur 2025.

Awarding BTN Housingpreneur 2025 diselenggarakan di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Sabtu, 12 Syaban 1447 H/31 Januari 2026 sekaligus Closing Ceremony BTN Expo 2026.

Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Direktur Utama PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu, bersama Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia Fahri Hamzah.

Kegiatan tersebut merupakan kompetisi tahunan yang diinisiasi oleh PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. untuk menjaring ide inovatif dan wirausaha muda di sektor perumahan. Tujuannya adalah menciptakan solusi kreatif bagi backlog perumahan nasional, mendorong keberlanjutan melalui eco-tech housing, serta memperkuat ekosistem perumahan dengan menghubungkan inovator muda dengan industri.

Tema yang diusung dalam BTN Housingpreneur 2025 yaitu Housing for Nation: Smart, Green and Inclusive, yang merepresentasikan upaya bersama dalam menciptakan ekosistem perumahan yang inovatif, ramah lingkungan, berbasis teknologi, serta dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat demi mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Terkait karya yang diusung, Fikri Abdulah Sahid menjelaskan bahwa ModuLego House 3.0 adalah sebuah konsep hunian tumbuh modular untuk menjawab krisis perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di kota padat Indonesia. Permasalahan tidak hanya berupa backlog, tetapi juga renovasi tidak terencana akibat rumah konvensional yang dirancang sebagai produk final, sementara ekonomi keluarga MBR berkembang secara bertahap.

Menurutnya, konsep tersebut memandang rumah sebagai sistem yang dapat tumbuh mengikuti siklus hidup dan kemampuan ekonomi penghuni. Hunian sudah layak sejak tahap awal dan disiapkan untuk pengembangan melalui sistem modular plug-and-place, sehingga penambahan ruang dapat dilakukan tanpa renovasi destruktif, lebih efisien, dan minim risiko.

“ModuLego House menyasar keluarga muda dan MBR dengan daya beli awal terbatas. Selain efisien secara konstruksi, konsep ini menerapkan desain pasif sesuai iklim tropis perkotaan, sehingga menawarkan sistem hunian yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan realitas masyarakat Indonesia”, jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa ada sekitar 1.117 berkas masuk pada kompetisi tersebut, dan yang masuk tahap live pitching 14 peserta. “Ketika masuk grand judging ada 4 peserta, diambil 2 pemenang yaitu juara1 dan juara 2”, pungkasnya.

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan studi tiru dari Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) pada Jumat, 30 Januari 2026, bertepatan dengan 12 Syakban 1447 H. Kunjungan ini menjadi forum strategis untuk berbagi praktik baik dalam pengembangan kurikulum, penerapan Outcome-Based Education (OBE), serta penguatan daya saing program studi melalui akreditasi internasional.

Rombongan Universitas Brawijaya disambut langsung oleh sivitas akademika Jurusan Teknik Sipil FTSP UII. Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FTSP UII, Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI., yang menekankan bahwa tantangan utama perguruan tinggi teknik ke depan adalah memperoleh pengakuan internasional, baik melalui akreditasi global maupun partisipasi aktif dalam kompetisi serta hibah internasional. Ia juga menyampaikan bahwa UII merupakan salah satu pionir dalam pengembangan infrastruktur pembelajaran daring sejak 2017, sehingga relatif siap menghadapi percepatan transformasi pendidikan pada masa pandemi COVID-19.

Sementara itu, Dr. Eng. Ir. Indradi Wijatmiko, S.T., M.Eng.(Prac)., IPU., ASEAN Eng., Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya mengungkapkan bahwa dari sembilan departemen yang ada, baru lima departemen yang berhasil meraih akreditasi internasional. Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama, khususnya dalam penguatan sistem pendukung OBE serta perencanaan akreditasi internasional untuk program magister dan doktor. Salah satu skema akreditasi yang tengah dipertimbangkan adalah Akreditasi Internasional Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik (ASIIN).

Diskusi semakin mendalam ketika Ketua Jurusan Teknik Sipil UII memaparkan perjalanan implementasi OBE yang telah dimulai sejak 2014. Ia menjelaskan proses transformasi sistem penilaian dari yang semula berbasis manual hingga beralih ke sistem digital sebagai bagian dari upaya membangun budaya OBE yang berkelanjutan. Selain itu, turut dipaparkan perkembangan kurikulum, mulai dari Kurikulum 2014, 2020, hingga Kurikulum 2025, termasuk penerapan mata kuliah capstone yang menekankan luaran nyata seperti poster dan video, serta pelibatan praktisi dan konsultan dalam proses penilaian.

Ketua Program Studi Sarjana Teknik Sipil Universitas Brawijaya, Dr.-Eng. Ir. Eva Arifi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., kemudian membagikan pengalaman institusinya dalam meraih akreditasi IABEE pada 2024. Dr. Eva menyoroti pentingnya membangun budaya mutu yang didukung oleh sistem yang kuat agar implementasi OBE dapat berjalan secara konsisten di kalangan dosen. Pada kesempatan tersebut, pihak Universitas Brawijaya juga menggali lebih dalam praktik pembelajaran basic science dan capstone design yang diterapkan di Program Studi Teknik Sipil FTSP UII.

Menutup rangkaian diskusi, perwakilan FTSP UII memaparkan konsep OBE Plus yang terintegrasi dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pendekatan STEM dan Higher Order Thinking Skills (HOTS), serta penggunaan Learning Outcome Assessment (LOA) berbasis web. Sistem ini memungkinkan dosen dan mahasiswa memantau capaian Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) secara transparan, sekaligus mendorong mahasiswa melakukan evaluasi mandiri terhadap pencapaian pembelajaran.

“Kunjungan studi tiru ini diharapkan tidak hanya mempererat hubungan kelembagaan antara FTSP UII dan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, tetapi juga membuka peluang kerja sama lanjutan dalam pengembangan kurikulum, riset, serta peningkatan mutu pendidikan teknik sipil yang berdaya saing global,” pungkas Dr. Eng. Faizul Chasanah, S.T., M.Sc., selaku penanggung jawab penerima kunjungan.