Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil menyelenggarakan Seleksi Final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) Tahun 2026 yang diikuti oleh delapan finalis terbaik dari berbagai program studi di lingkungan FTSP. Kegiatan seleksi ini menjadi bagian dari proses penjaringan mahasiswa unggul yang akan mewakili fakultas pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas Islam Indonesia.

Seleksi final dilaksanakan melalui serangkaian tahapan penilaian yang komprehensif, meliputi Capaian Unggulan (CU), Gagasan Kreatif (GK), serta kemampuan komunikasi dalam Bahasa Inggris (BI). Setiap finalis mengikuti sesi wawancara capaian prestasi, presentasi gagasan kreatif, serta uji komunikasi bahasa Inggris yang dinilai secara langsung oleh dewan juri dari kalangan dosen FTSP yang memiliki kompetensi di bidang akademik, inovasi, publikasi ilmiah, dan pengembangan mahasiswa.

Sebelum mencapai tahap final, proses seleksi telah diawali dengan tahap pemberkasan yang diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari tiga program studi di FTSP, yaitu Teknik Sipil, Arsitektur, dan Teknik Lingkungan. Para peserta diminta untuk menyerahkan dokumen 10 capaian unggulan terbaik, gagasan kreatif yang relevan dengan permasalahan pembangunan berkelanjutan, serta video presentasi dalam Bahasa Inggris yang membahas isu-isu terkait Sustainable Development Goals (SDGs).

Berdasarkan hasil penilaian akhir dewan juri, Alwan Chandra Ririh Adhyaksa dari Program Studi Teknik Sipil berhasil meraih Juara I dengan total nilai 409. Posisi Juara II diraih oleh Aurel Rifda Huntoro dari Program Studi Arsitektur dengan total nilai 403, sementara Juara III diraih oleh Naila Syafa’atul Udzma dari Program Studi Teknik Lingkungan dengan total nilai 360. Ketiga mahasiswa tersebut selanjutnya akan mewakili FTSP UII pada Seleksi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas Islam Indonesia Tahun 2026.

Dekan FTSP UII, Prof. Ilya Fadjar Maharika, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah berpartisipasi dalam proses seleksi tersebut. Menurutnya, ajang PILMAPRES merupakan sarana penting untuk menumbuhkan budaya akademik yang unggul di kalangan mahasiswa. “Mahasiswa berprestasi tidak hanya dituntut memiliki capaian akademik yang tinggi, tetapi juga mampu menunjukkan kepemimpinan, kreativitas, serta kepedulian terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Kami berharap kegiatan ini dapat terus melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi lingkungan dan bangsa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni FTSP UII, Ir. Fitri Nugraheni, S.T., M.T., Ph.D., yang menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara objektif dan transparan. “Seleksi PILMAPRES di tingkat fakultas dirancang untuk mengidentifikasi mahasiswa yang memiliki kombinasi antara prestasi akademik, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan komunikasi global. Kami berharap para mahasiswa yang terpilih dapat menjadi representasi terbaik FTSP UII di tingkat universitas maupun nasional,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Seleksi PILMAPRES FTSP UII 2026, Ikrom Mustofa, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek kualitas mahasiswa. “Proses seleksi tidak hanya menilai jumlah prestasi yang dimiliki mahasiswa, tetapi juga kualitas, dampak, dan relevansi capaian tersebut terhadap pengembangan diri serta kontribusi bagi masyarakat. Selain itu, gagasan kreatif yang disampaikan peserta juga menjadi indikator penting dalam menilai kemampuan mahasiswa untuk menawarkan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan,” ungkapnya.

Dari sisi penilaian kemampuan komunikasi global, Dr.-Ing. Putu Ayu P. Agustiananda, S.T., M.A., yang bertindak sebagai salah satu juri pada komponen Bahasa Inggris, menilai bahwa para finalis menunjukkan potensi yang baik dalam menyampaikan gagasan secara argumentatif dalam bahasa internasional. “Mahasiswa saat ini harus mampu mengkomunikasikan ide-ide mereka secara efektif kepada audiens yang lebih luas, termasuk di tingkat internasional. Kami melihat bahwa para finalis memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menyampaikan ide secara jelas dan percaya diri,” ujarnya.

Peraih Juara I PILMAPRES FTSP UII 2026, Alwan Chandra Ririh Adhyaksa, mengungkapkan bahwa pengalaman mengikuti seleksi ini menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga. Menurutnya, kompetisi ini tidak hanya mendorong mahasiswa untuk menunjukkan capaian terbaik, tetapi juga untuk terus mengembangkan ide-ide inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Bagi saya, PILMAPRES bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang untuk refleksi diri dan pengembangan potensi. Saya berharap pengalaman ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi nyata melalui karya dan inovasi yang mereka miliki,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan seleksi PILMAPRES ini, FTSP UII berharap dapat terus mendorong lahirnya mahasiswa-mahasiswa unggul yang tidak hanya memiliki prestasi akademik yang kuat, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian terhadap berbagai isu pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Oasis Hikmah Ramadan sebagai penguatan spiritual Ramadan 1447 H dengan penuh makna. Kegiatan ini mengusung tema besar “Hakikat Cinta Sehat Jiwa Raga Menuju Peradaban Islam Madani”, menjadikannya wadah inspiratif bagi civitas akademik.​

Oasis Hikmah Ramadan terdiri dari dua rangkaian utama, yaitu Pengajian Songsong Ramadan dan Pengajian Pesantren Ramadan disertai buka bersama, yang diselenggarakan secara bertahap sepanjang Februari hingga Maret 2026. Kegiatan bertempat di Auditorium Lantai 3 FTSP UII, menarik perhatian dosen serta tenaga kependidikan yang haus akan penguatan nilai-nilai Islam.​

Tema utama menekankan hakikat cinta dari berbagai perspektif keislaman, mulai dari dimensi spiritual, sosial, hingga fisik. Dalam era modern yang penuh tantangan seperti krisis kepemimpinan dan pola hidup tidak sehat, acara ini relevan untuk mengembalikan cinta sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.​

Dekan FTSP UII, Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI., dalam sambutannya turut mengajak peserta menghidupkan cinta beretika dalam interaksi sehari-hari. Beliau menyoroti bahwa cinta bukan sekadar retorika, melainkan budaya adil yang melahirkan keadilan dan perlindungan sosial.​

Narasumber pilihan inspiratif ustadz dr. Veby Novri Yendri, Sp.THT-KL., dari FK UII pada sesi pertama, serta ustadz Dzulkifli Hadi Imawan, Lc., M.Kom.I., Ph.D. dari FIAI UII, membahas ekspresi cinta yang empati di kehidupan sehari-hari serta hubungan kesehatan fisik dengan kualitas ibadah spiritual.​

Peserta diajak merefleksikan tantangan kontemporer, seperti musyawarah yang luntur digantikan ego, serta pengorbanan fisik demi pekerjaan yang berujung kelelahan kronis. Kajian interaktif ini mendorong peserta menerapkan prinsip cinta untuk membangun peradaban Islam madani yang inklusif.​

Keberhasilan Oasis Hikmah Ramadan tidak hanya menyemarakkan suasana Ramadan, tapi juga menjadi momentum tahunan untuk membentuk komunitas FTSP UII yang lebih spiritual dan produktif.

Ramadan adalah momentum istimewa untuk memperkuat resiliensi spiritual, di mana iman yang kokoh menjadi fondasi utama dalam menjaga produktivitas dan kesehatan saat bekerja. Puasa bukan alasan untuk menurunkan etos kerja, melainkan sarana untuk mentransformasi kerapuhan fisik menjadi kekuatan mental dan spiritual.

Kita sering salah memahami kekuatan. Kita mengira kuat itu tak pernah goyah, tak pernah lelah, tak pernah jatuh. Padahal kekuatan sejati justru lahir dari proses jatuh dan bangkit, dari rasa kurang yang melatih cukup, dari lapar yang mengajarkan kendali. “Di situlah ramadan menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan pembentukan ketahanan jiwa”, tuturnya.

Demikian dituturkan ustaz Prof. drh. H. Agung Budiyanto, MP., Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dalam acara Kajian Ramadan yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) pada Senin, 12 Ramadan 1447 H/2 Maret 2026 di Hall Gedung Moh. Natsir Kampus FTSP UII.

Dalam tema “Kokoh dalam Iman, Sehat dalam Bekerja: Resiliensi Spiritual di Bulan Ramadan tersebut, Prof. Agung menambahkan bahwa resiliensi adalah kemampuan bertahan dan bangkit di tengah tekanan. Ketika keduanya bertemu, kita menyadari bahwa puasa bukan hanya ritual, melainkan latihan mental, spiritual, dan sosial yang sangat nyata. Menurutnya, resiliensi umat tidak dibangun oleh individu yang hebat sendiri, tetapi oleh hati-hati yang saling menguatkan. Ramadan mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam, kita menahan diri untuk menjadi lebih kuat. Kita mengurangi konsumsi untuk memperkaya makna. Kita merasakan lapar agar jiwa tidak lagi kosong.

“Dan ketika ramadan usai, semestinya hati lebih kokoh, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih tahan menghadapi hidup”, pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Teknik Sipil FTSP UII, Miftahul Fauziah, ST., MT., Ph.D. saat membuka kegiatan tersebut menyatakan bahwa iman yang kokoh membentuk mental yang tangguh, kemudian menunjang kesehatan fisik dan produktivitas dalam bekerja. Pekerja yang sehat secara jasmani dan rohani, didukung dengan iman yang kuat, akan menghasilkan kinerja yang jujur, berkualitas, dan membawa keberkahan.

“Kokoh dalam Iman, Sehat dalam Bekerja artinya menjadikan iman sebagai fondasi, dan kesehatan sebagai modal utama untuk berkarya maksimal, yang bernilai ibadah dan berbuah rezeki yang halal dan berkah”, ujarnya.

Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) mengikuti program student exchange di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, selama satu semester penuh pada tahun akademik 2025–2026. Program ini berlangsung pada semester ganjil dengan rentang waktu Oktober 2025 hingga Februari 2026.

Mahasiswa yang mengikuti program tersebut adalah Alwan Chandra Ririh Adhyaksa (23511094), Randy Arya Dwi Permana (23511091), dan Eka Rio Syahputra (23511192). Ketiganya berkesempatan menjalani kegiatan perkuliahan secara langsung di kampus UiTM yang berlokasi di Shah Alam.

Program student exchange ini memungkinkan mahasiswa UII untuk mengikuti berbagai mata kuliah di UiTM selama satu semester, yang kemudian dapat dikonversi ke dalam sistem akademik di UII. Melalui skema tersebut, mahasiswa tetap dapat memenuhi kewajiban akademik di program studi asal sekaligus memperoleh pengalaman belajar di lingkungan internasional.

Selama mengikuti program ini, para peserta berpartisipasi dalam kegiatan perkuliahan reguler bersama mahasiswa UiTM, termasuk mengikuti diskusi kelas, penyelesaian tugas, serta ujian semester sesuai dengan kurikulum yang berlaku di universitas tuan rumah.

Program pertukaran mahasiswa ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi pendidikan yang dilakukan oleh UII untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa serta meningkatkan pengalaman belajar lintas negara. Selain memperdalam pengetahuan di bidang teknik sipil, mahasiswa juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya dan sistem pendidikan yang berbeda.

Melalui program ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik baru, tetapi juga mampu mengembangkan perspektif global serta memperkuat kerja sama akademik antara UII dan UiTM di tingkat internasional.

Madrasah ruhani yang meliputi pendidikan jiwa atau spiritual dimulai dari keluarga, karena keluarga merupakan madrasah pertama dan utama bagi seorang anak. Lingkungan keluarga adalah tempat pertama anak mendapatkan pendidikan akhlak, iman, adab, dan nilai-nilai keagamaan sebelum mengenal lingkungan luar.

Di era digital saat ini banyak keluarga yang secara tidak sadar mulai menjauh dari Al-Qur’an. Gawai, media sosial, dan kesibukan duniawi sering kali menyita waktu yang seharusnya diisi dengan interaksi ruhani bersama wahyu Allah. “Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca saat ibadah ritual, tetapi cahaya kehidupan yang seharusnya menerangi setiap sudut rumah tangga”, ungkapnya.

Demikian diungkapkan ustaz Kiki Fardiansyah Wijaya atau yang akrab dipanggil  Kiki F. Wijaya, Life Coach, Soft Skills Trainer, dan Pegiat Psikologi Islam dalam Kajian Ramadan yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) pada Sabtu, 10 Ramadan 1447 H/28 Februari 2026 di Auditorium Gedung Moh. Natsir Kampus FTSP UII dengan mengusung tema “Madrasah Ruhani Mulai dari Keluarga”.

Lebih lanjut ustaz Kiki menambahkan bahwa orang tua adalah role model utama bagi anak dalam menerapkan perilaku spiritual sehari-hari serta menciptakan suasana damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang sebagai dasar pertumbuhan. Selain itu juga membangun dialog terbuka dan penuh adab antara orang tua dan anak. “Dengan menjadikan keluarga sebagai madrasah ruhani, diharapkan terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kokoh secara spiritual” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni FTSP UII, Ir. Fitri Nugraheni, S.T., M.T., Ph.D., IPM. saat membuka acara tersebut mengajak dan menjadikan ramadan ini momentum perbaikan diri dan keluarga. Menurutnya, bulan ramadan menjadi momen intensif untuk memperkuat peran keluarga sebagai madrasah ruhani melalui ibadah bersama. “Semoga dari madrasah keluarga ini, lahir generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia”, tuturnya.