PERAN AKAL DALAM MEMBUMIKAN AGAMA

  • Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lain?

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah S.W.T yang paling mulia dan sempurna. Segala sifat dan karakter makhluk yang ada di alam semesta tercermin pada manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk menunjukkan eksistensi sifat yang ada di dalam dirinya, baik sifat-sifat hewani, jin, malaikat, dan perwujudan sifat-sifat ilahiah. Sebagai contoh makhluk lain adalah malaikat. Malaikat hanya memiliki satu jalan utama, yaitu untuk beribadah dan menyembah Allah S.W.T. Pada contoh lain, terdapat jin yang memiliki peran tunggal untuk menghasut dan menjerumuskan manusia untuk menempuh jalan yang buruk. Sedangkan pada diri manusia, dibentangkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas yang menjadi jalan yang dapat kita pilih untuk dilalui, yaitu jalan kebaikan ataupun jalan kebatilan. Hal ini telah difirmankan Allah S.W.T pada Quran: (QS Al-Balad (90): 8-10).

اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ

Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan),

Dari Ayat diatas dapat kita pahami bahwa telah dibentangkan dihadapan manusia, 2 jalan yang dapat ditempuh (kebaijan & keburukan) Oleh karena itu manusia memiliki potensi untuk memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan malaikat, dan di lain pihak dapat berada di tempat yang lebih rendah dibandingkan jin.

Karunia yang sangat besar yang dianugerahkan oleh Allah S.W.T sang maha pencipta hanya kepada manusia adalah akal (‘aql).

  • Apa itu akal (‘Aql)?

Menurut zein.a (2017) dari sejumlah ayat Al-Quran akal dapat dipahami memiliki beberapa makna, antara lain daya untuk memahami sesuatu, dorongan moral, dan daya untuk melakukan analisis terhadap suatu hal. Dari situ dapat kita pahami bahwa dengan adanya akal, kita mampu untuk memahami segala fenomena dan persitiwa yang ada di muka bumi. Bahkan terlebih lagi, akal dapat menjembatani kita utuk memahami dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi dibaliknya.

  • Kenapa Manusia Diberi Akal

Pertanyaan ini seringkali kita tanyakan kepada diri kita sendiri.Seakan-akan akal bukan merupakan suatu karunia yang sangat besar dan sudah seharusnya kita syukuri. Padahal jika kita mau unruk merenung sejenak, akal merupakan suatu karunia yang sangat berharga yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Akal merupakan sebuah karunia dari Allah yang hanya diberikan ke manusia untuk peran mulia yang diletakkan di pundak manusia. Peran tersebut adalah sebagai Khalifatullah. Khalifaf merupakan peran mulia sekaligus berat yang menempatkan manusia untuk memercikan nilai ilahiah ke muka bumi.

  • Beragama dengan Akal

Akal memiliki kedudukan yang sangat penting dalam islam. Mengutip Damhuri,E (2019), Keimanan merupakan kolaborasi antara akal sehat yang berdasar dari kemampuan akal untuk menganalisis sesuatu yang terjadi, dengan kebersihan jiwa dan nurani. Oleh karena itu keimanan tidaklah hanya didasarkan pada taqlid butta yang hanya mengandalkan kebersihan ruhani saja.

Akal memiliki peranan yang sangat penting dalam menafsirkan dalil-dalil pada Al-Quran & Hadist. Akal sangat diperlukan untuk membumikan ajaran-ajaran islam yang kemudain dapat menjawab konteks dan tantangan zaman. Namun memang agaknya dibutuhkan kemampuan analisis yang baik, serta studi lebih lanjut dari berbagai literatur-literatur yang disusun oleh berbagai ulama.

  • Apakah akal hanya untuk dinikmati diri sendiri atau memberi manfaat untuk orang lain?

Kapasitas dan kemampuan akal akan satu individu dengan individu yang lain sangatlah berbeda. Hal inilah  menjadi satu faktor penentu mengenai seberapa kritis dan analitis manusia dalam mensikapi peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya. Selain itu, pola didikan, pengalaman, dan faktor lingkungan juga menaruh peranan penting. Oleh karena itu, sangatlah tidak mungkin bagi individu manusia untuk memahami seluruh disiplin ataupu seluruh aspek yang ada di muka bumi ini. Oleh karena itu, karunia akal yang diberikan oleh Allah S.W.T, harus mampu membawa kita untuk memberi manfaat ke sesama.

  • Mari kita berhenti sejenak (meresapi, merenungi, dan memaknai hidup). Merefleksikan rutinitas harian dan ritual ibadah yang kita lakukan.

Terkadang ditengah rutinitas harian kita yang sangat padat, kita melupakan untuk meresapi dan mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah S.W.T kepada kita, bahkan nikmat yang tanpa pernah kita minta. Dengan berhenti sejenak, kita bisa merefleksikan apa yang telah terjadi selama ini, dan dapat menjadikannya sebagai pembelajaran di masa yang akan datang.

  • Membumikan agama (langit)

Berkat karunia  akal, kita dapat memahami fenomena yang ada di muka bumi ini, dengan tuntunan dari Al-quran dan Hadist. Al-quran merupakan suatu mukjizat yang diberikan Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad dan umatnya, yang menjadi tuntunan dalam berkehidupan sehari-hari. Pada upaya membumikan  agama, diperlukan akal dan iktiar akal. Akal memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda, antar satu individu dengan individu lain. Hal tersebut juga dipengaruhi seberapa sering akal dilatih, selain itu daya analitis akal juga sangat dipengaruhi oleh keterbentukan lingkungan yang ada di sekitar individu. Terkait hal tersebut, memungkinkan untuk terjadinya perbedaan pandangan dan penafsiran yang ada di masyarakat.

 

  • Ijtihad

Dalam tulisan Hanany,A (2012) Ijtihad dapat dipandang sebagai faktor utama dalam dinamika umat Islam, namun kenyataannya telah disurutkan peranannya oleh umat Islam itu sendiri, sehingga tidak ada jalan lain selain bertaqlid.

Ayat al-Qur’an yang dipahami oleh para ulama sebagai ayat yang menunjukkan dan menjelaskan penetapan ijtihad sebagai dasar tasyri’ (penetapan hukum) adalah Surah an-Nisa’ ayat 5 yang berbunyi:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاۤءَ اَمْوَالَكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللّٰهُ لَكُمْ قِيٰمًا وَّارْزُقُوْهُمْ فِيْهَا وَاكْسُوْهُمْ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan RasulNya, dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah Rasul)”

Adapun hadist lainnya yang memperkuat kedudukan diperbolehkannya melakukan ijtihad adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Ash, ra. Ia mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila seorang hakim menetapkan hukum melalui ijtihad dan benar maka ia diberikan dua pahala, sedangkan apabila ia salah maka diberi satu pahala.”.

Ungkapan yang sering dinyatakan oleh para ahli berkenaan dengan kegiatan ijtihad adalah bahwa ijtihad merupakan suatu perkara yang penting namun sulit untuk dilakukan. Dari situ dapat kita pahami bahwa ijtihad merupakan suatu upaya yang sangat dibutuhkan oleh umat islam utuk dapat memberikan solusi terhadap permasalahan baru dewasa ini (kontemporer). Ijtihad dapat didasarkan pada Al-quran, Sunnah Nabi, Dalil Aqli. ijtihad senantiasa diperlukan dalam setiap era kehidupan. Namun hal ini bukan berarti bawhwa semua orang dapat secara bebas melakukan ijtihad Sementara itu Abdul Wahhab Khallaf menjelaskan adanya empat syarat bagi mujtahid:16 1. Mengetahui bahasa arab 2. Memiliki kemampuan atau pengetahuan tentang al-Qur’an 3. Mengetahui pengetahuan tentang al-Sunnah  4. Mengerti segi-segi mengenai qiyas Termasuk juga mengerti berbagai peristiwa kemanusiaan dan mu’amalah sehingga dapat mengenali sesuatu yang menjadi ‘illat hukum suatu peristiwa yang tidak ada nash di dalamnya.

  • Kesimpulan

Dari berbagai hal diatas, dapat dikatakan bahwa akal memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia diberikan kelebihan berupa akal, yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Allah S.W.T. Dengan akal, manusia dapat memahami segala fenomena yang ada di muka bumi ini. Selain itu manusia juga dapat menentukan pilihan mengenai jalan yang akan ia tempuh, baik jalan kebaikan ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita bersyukur dengan limpahan karunia berupa akal yang telah diberikan oleh sang pencipta. Wujud rasa syukur tersebut salah satunya adalah dengan menggunakan akal dalam menyongsong kebaikan dan menjauhi larangan-Nya, serta selalu berusaha untuk memberikan manfaat baik kepada seluruh makhluk di muka bumi ini. Namun satu yang harus diingat bagaimanapun akal tetap memiliki keterbatasan, oleh karenanya, perlunya disandingkan akal dengan kebersihan hati untuk dapat membawa manfaat yang baik bagi kehidupan di alam semesta.

 

Referensi            :

Zein,A. (2017). TAFSIR AL-QURAN TENTANG AKAL. Jurnal At-tibyan, 2(2).

Retrieved from https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/tibyan

Naseh, A. H. . (2020). IJTIHAD DALAM HUKUM ISLAM. AN NUR: Jurnal Studi Islam, 4(2). Retrieved from https://jurnalannur.ac.id/index.php/An-Nur/article/view/21

Nashrullah,N. (2020) . 2 Jalan yang Membedakan Manusia dengan Makluk Lainnya.

Retrieved from https://www.republika.co.id/berita/qezzq0320/2-jalan-yang-membedakan-manusia-dengan-makhluk-lainnya

Damhuri, E (2019) . Karunia Akal

Retrieved from https://www.republika.co.id/berita/pzykvv440/karunia-akal-part1

Tentang Penulis

Nama : Aryo Akbar Aldiansyah, S.T., M.Arch.
Jurusan : Arsitektur
Jabatan : Dosen