Webinar Nasional 20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 “Refleksi dan Kesiapsiagaan Infrastruktur Menghadapi Megathrust Selatan Jawa”

Dalam rangka mengenang dua dekade peristiwa gempa Yogyakarta 2006 sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan infrastruktur menghadapi ancaman gempa besar di masa depan, Program Studi Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006: Refleksi dan Kesiapsiagaan Infrastruktur Menghadapi Megathrust Selatan Jawa” diikuti mahasiswa, akademisi, praktisi, pemerhati kebencanaan, dan masyarakat umum.

Webinar yang digelar pada Kamis, 4 Dzulhijah 1447 H/21 Mei 2026 dan dibuka oleh Dekan FTSP UII, Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI. tersebut menghadirkan dua pakar terkemuka di bidang kebencanaan dan rekayasa struktur yang akan membahas ancaman megathrust Selatan Jawa dari berbagai perspektif ilmiah dan kesiapsiagaan infrastruktur, yaitu Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU., Pakar Seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan topik “Ancaman Megathrust Selatan Jawa: Potensi, Karakteristik, dan Implikasinya bagi Yogyakarta”. dan Prof. Ir. Widodo, MSCE., Ph.D., Pakar Rekayasa Struktur dari FTSP UII dengan materinya “Kesiapsiagaan Infrastruktur Tahan Gempa: Pembelajaran dari Gempa Jogja dan Antisipasi Megathrust”.

Dalam materinya, Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU. memaparkan bahwa peta 2024 memberikan representasi terkini tentang sumber dan bahaya gempa di Indonesia. Namun, keselamatan akan terwujud jika Standar Nasional Indonesia (SNI) baru berdasarkan peta tersebut benar-benar diimplementasikan dalam kebijakan, desain, dan tindakan teknis. Pada wilayah dengan kedalaman engineering bedrock > 30 m atau berada di cekungan sedimen (basin), parameter Vs₃₀ tidak cukup menggambarkan respons tanah yang sebenarnya. “Site Specific Response Analysis (SSRS) perlu dilakukan, terutama untuk bangunan tinggi atau struktur berperiode panjang, agar efek amplifikasi periode panjang dan kondisi lokal dapat terwakili dalam spektra desain yang lebih reliabel”, paparnya.

Sementara itu, Prof. Ir. Widodo, MSCE., Ph.D. pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa gempa bumi akibat gempa dangkal dan dekat dengan pemukiman penduduk sudah sangat sering terjadi di Indonesia dengan segala dampaknya. Dampak dari gempa Yogyakarta 2006 telah banyak menjadi pembelajaran baik dari sisi teknis penyediaan bangunan tahan gempa maupun perlindungan terhadap korban manusia.

Menurutnya, tidak hanya gempa dangkal, para peneliti juga mengidentifikasi adanya beberapa seismic-gap di selatan pulau Jawa yang berpotensi mengakibatkan gempa Megathrust. Oleh karena itu perlu ada strategi mitigasi dampak gempa dangkal maupun Megathrust.

“Paling tidak ada 4 strategi mitigasi risiko kegagalan bangunan yang dapat dipakai, baik fisik dan nonfisik, yaitu Human Resources Based (Capacity), Physical Based (Vulnerability), Environmental Based (Exposure) dan Scientific Based Mitigation (Hazard)”, jelasnya.

Ketua Prodi Teknik Sipil FTSP UII, Ir. Yunalia Muntafi, S.T., M.T., Ph.D. (Eng)., IPM., mengungkapkan bahwa webinar tersebut menjadi wadah refleksi bersama atas pengalaman bencana yang pernah terjadi, sekaligus forum edukasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan dunia konstruksi terhadap ancaman gempa bumi. “Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara akademisi, praktisi, mahasiswa, dan masyarakat dalam membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan berkelanjutan”, ujarnya.