Yogyakarta, 20 April 2026 – Program Profesi Arsitek (PPAr) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menggelar Architect Talk Series #23. Agenda tahunan ini dirancang sebagai kuliah umum inspiratif untuk mahasiswa baru, sekaligus menandai pembukaan tahun ajaran baru PPAr UII dengan tema progresif “Reframing Future Habitat: Architecture, Locality, Sustainability”.

Architect Talk telah menjadi tradisi rutin PPAr UII untuk menghadirkan arsitek praktisi ternama Indonesia. Edisi ke-23 kali ini mengundang Gregorius Supie Yolodi, Principal Architect dari D-Associates, sebagai narasumber utama. Dialog mendalam akan membahas arsitektur global yang terdampak percepatan teknologi, perubahan iklim, urbanisasi masif, serta krisis ekologis kompleks.

Narasumber mendiskusikan konsep future habitat yang melampaui bangunan canggih berbasis teknologi. Lebih dari itu, forum ini menyoroti integrasi sistem kehidupan manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan digital. “Kita tidak hanya membangun struktur, tapi menciptakan ekosistem berkelanjutan yang bermakna,” tegasnya.

Tantangan utama yang diangkat adalah marginalisasi konteks lokal akibat pendekatan desain universal dan homogen. Iklim tropis Indonesia, kearifan lokal, material setempat, serta lanskap ekologis sering terabaikan, menyebabkan ruang binaan kehilangan identitas dan ketahanan. Architect Talk #23 hadir sebagai ruang diskursus untuk merumuskan solusi kontekstual yang menggabungkan inovasi teknologi dengan nilai lokal.

Format kuliah umum interaktif ini diikuti sekitar 40 mahasiswa PPAr, mahasiswa Magister Arsitektur, serta 130 mahasiswa Sarjana Arsitek semester 6 mata kuliah Arsitektur Desain Studio 2. Panitia menekankan pentingnya acara ini bagi pembentukan mindset mahasiswa arsitek masa depan. “Architect Talk bukan sekadar kuliah, tapi panggilan untuk arsitek Indonesia berkontribusi pada habitat berkelanjutan yang berakar kuat pada identitas lokal”.

Tema “Reframing Future Habitat” relevan dengan urgensi arsitektur Indonesia menghadapi dualitas global-lokal. Bagaimana mengintegrasikan prinsip sustainability dengan kearifan Nusantara? Pertanyaan ini akan dijawab melalui perspektif praktis Gregorius Supie Yolodi, yang dikenal dengan proyek-proyek inovatifnya.

FTSP UII menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan arsitektur berkelanjutan melalui Architect Talk Series #23, ini tercermin dalam kurikulum praktik nyata PPAr UII, proyek penataan kampung bantaran sungai Yogyakarta bersama mitra internasional, serta seminar Sustainability in Architecture yang konsisten digelar. FTSP UII tidak hanya mencetak arsitek berstandar internasional, tetapi juga pelopor pemanfaatan AI dan desain berbasis komunitas yang ramah lingkungan

Sebanyak 30 arsitek muda lulusan Program Studi (Prodi) Profesi Arsitek, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Islam Indonesia (UII) resmi dikukuhkan sebagai arsitek profesional. Prosesi wisuda angkatan ke-17 tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 29 Syawal 1447 H/18 April 2026 di Auditorium Gedung Moh. Natsir Kampus FTSP UII.

Dari jumlah tersebut, mayoritas lulusan berhasil meraih prestasi akademik tinggi. Sebanyak 21 orang memperoleh predikat cum laude, sementara sisanya lulus dengan predikat sangat memuaskan. Capaian tersebut mencerminkan kualitas lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan praktik di lapangan.

Para lulusan telah menjalani pendidikan profesi selama satu tahun dengan total beban 36 SKS. Proses pembelajaran dirancang berbasis praktik profesional, kolaborasi lintas disiplin, serta keterlibatan langsung dalam proyek nyata bersama masyarakat dan mitra profesional.

Selain pengukuhan, wisuda kali ini juga menjadi tonggak penting dengan digunakannya gelar profesi baru, yakni P.Ars (Profesi Arsitektur), yang mengacu pada kebijakan nasional. Lulusan juga dibekali berbagai dokumen penunjang karier, mulai dari Sertifikat Pendidikan Profesi Arsitek, transkrip nilai, Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), hingga kartu keanggotaan Ikatan Arsitek Indonesia serta Sertifikat Kompetensi jenjang 7 sebagai Asisten Arsitek.

Ketua Program Studi Profesi Arsitek FTSP UII, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmaji, ST., MT., IPM., IAI., dalam laporannya menyampaikan bahwa pendekatan pendidikan berbasis pengalaman nyata menjadi keunggulan utama lulusan. Menurutnya para lulusan tidak hanya menyelesaikan pendidikan secara akademik, tetapi juga telah terlibat dalam proyek riil bersama masyarakat, pemerintah, dan mitra profesional. “Dengan bekal tersebut, kami optimis mereka siap berkontribusi sebagai arsitek profesional yang beretika dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa selama masa pendidikan, mahasiswa terlibat dalam berbagai proyek advokasi desain, praktik profesional di biro arsitek, serta kolaborasi multidisiplin di berbagai kota. “Skema ini memungkinkan lulusan memiliki peluang kerja lebih luas bahkan sebelum menamatkan studi,” imbuhnya.

Berkenan hadir dalam kesempatan tersebut Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Nasional, diwakili Koordinator Region 2 Ar. Sugiarto, IAI., Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) diwakili oleh Pengurus APTARI Komisi Akreditasi, Dr. Ir. Agus Dwi Hariyanto, S.T., M.Sc., Ketua Dewan Arsitek Indonesia: Ar. Ahmad Saladin, IAI., Ketua LSP Sertifikasi Arsitek Indonesia: Ar. Pierre Albyn Pongai, S.T., M.T. IAI., Ketua IAI DIY: Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA., dan Dekan FTSP UII diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Dr. Ir. Kasam, M.T.

Sejak berdiri pada 2012, PPAr UII telah menghasilkan 346 arsitek profesional. Tingkat kelulusan tepat waktu yang mencapai 100 persen dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikator konsistensi program dalam menjaga mutu pendidikan. Melalui acara ini, para lulusan juga secara resmi diserahkan kepada Ikatan Arsitek Indonesia untuk mendapatkan pendampingan lanjutan dalam pengembangan karier. Diharapkan, mereka mampu memperkuat layanan arsitektur sekaligus berkontribusi dalam pembangunan lingkungan binaan yang berkelanjutan di Indonesia.